Home » Destinasi » Ini Konsep Homestay di Kawasan Wisata Bromo

Ini Konsep Homestay di Kawasan Wisata Bromo

Tag Pariwisata, Jakarta – Desain Arsitektur Nusantara untuk homestay yang dibuat Verena Rafaela dkk berjudul Dusun Guyub Bromo, untuk destinasi BTS –Bromo Tengger Semeru—Jawa Timur sangat menginspirasi untuk pembuatan Rumah Wisata yang dibangun, dimiliki dan dikelola oleh masyarakat.

Konsep desainnya tak kalah dengan Rumah Bolon di Sumatera Utara, Tongkonan di Toraja, atau rumah adat Bali dengan ornamen ukiran batu dan warna orange yang khas. Warna Indonesia-nya tetap terlihat. “Identitas dengan warna lokal tetap ditonjolkan. Desainnya diselaraskan dengan bangunan-bangunan rumah yang selaras dengan arsitektur Bromo-Tengger-Semeru,” ungkap Ketua Tim Desain Guyub Bromo Verena Rafaela, (16/11).

Desain interior maupun eksterior bangunannya disesuaikan lingkungan di sekitarnya. Tampilannya mengadopsi gaya rumah adat khas Suku Tengger, suku yang mendiami 38 desa di empat kabupaten di Jawa Timur, yakni Kabupaten Probolinggo, Kabupaten Malang, Kabupaten Lumajang dan Kabupaten Pasuruan. “Bromo merupakan salah satu tujuan wisata favorit di Pulau Jawa. Warna Jawa-nya harus ditonjolkan,” ungkap Verena.

Konsep Dusun Guyub pun tercipta. Ruang-ruang terbuka ikut di-create. Tujuannya, apalagi kalau bukan untuk menciptakan interaksi antara penduduk dan wisatawan. Zona ruang dalam dibagi secara vertikal agar pemilik dan tamu bisa memiliki privasi masing-masing. Kamar mandi dan dapur juga dipisahkan agar higienis. “Dapur juga bisa difungsikan sebagai ruang guyub. Bisa dijadikan warung pemilik rumah,” ungkap Verena.

Struktur dan konstruksinya juga disesuaikan dengan keadaan alam di sekitarnya. Bangunannya didominasi dari kayu yang banyak tersedia di sekitar kawasan Bromo-Tengger-Semeru. Atapnya, sebagian menggunakan genteng kaca supaya ada cahaya alami yang masuk ke rumah. Untuk menjaga suhu tetap hangat, bagian atap diberi peredam dengan konduktan rendah. Bahannya diambil dari kertas daur ulang. “Lantainya dek kayu, dindingnya juga kayu. Sambungan kayu tidak menggunakan paku agar mudah dibongkar pasang,” beber Verena.

Sistem ventilasinya dipilih ventilasi silang. Sistem ini dipakai untuk menciptakan perputaran udara secara terus menerus. Dengan demikian, tidak ada udara kotor di bagian dalam ruangan akibat perebutan udara oleh penghuni rumah. “Ventilasi silang dapat meningkatkan kualitas udara di dalam ruangan serta mendukung gaya hidup produktif dan sehat. Dengan penggunaan ventilasi silang, pemilik rumah dapat menghemat biaya pemakaian AC karena selalu diliputi hawa sejuk,” ucap dia.

Selain itu, ventilasi silang juga dapat mendorong zat-zat kimia yang menumpuk di dalam rumah dan mengurangi kelembaban yang dapat menyebabkan tumbuhnya jamur. “Kami juga meng-create area produktif. Area ini bisa digunakan untuk bercocok tanam, beternak ataupun digunakan untuk keperluan membuat kerajinan tangan,” pungkas dia.

Jumlah pengunjung kawasan Bromo sesuai data Taman Nasional Bromo Tengger Semeru mencapai 474.011 di 2015. Sebanyak 456.995 adalah wisatawan domestik dan 17.016 wisatawan mancanegara.

“Bayangkan jika ratusan ribu wisatawan itu menginap di homestay yang desainnya hanya bisa dijumpai Jawa. Spent money ke masyarakatnya bisa lebih banyak lagi. Length of stay juga bisa lebih panjang karena ada atraksi tambahan yang bisa disaksikan lewat tampilan unik homestay di desa-desa wisata,” beber Verena.***

Tag Facebook

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

x

Check Also

Makin Mudah Saja ke Danau Toba, Batik Air Akan Terbang ke Silangit

Tag Pariwisata, Jakarta- Maskapai Batik Air akan segera terbang ke Bandara Silangit dari Bandara Internasional ...