Home » Pariwisata » Ini Alasan Wisata ke Karimunjawa Sangat Berkesan

Ini Alasan Wisata ke Karimunjawa Sangat Berkesan

Tag Pariwisata, Jakarta- Ada banyak alasan yang menjadikan wisata ke Karimunjawa unik bahkan tidak ada di taman nasional lain di Indonesia.

Di Karimunjawa ekosistemnya asli, terumbu karangnya sehat, fauna langka mudah ditemui.  Pulau-pulau  di sana memiliki resort yang berwawasan lingkungan. Penduduknya ramah dan hidangan juga lezat dengan bahan baku segar hasil tangkapan nelayan lokal.

Dalam hal infrastuktur, pemerintah sudha cukup mendukung dengan menyediakan  listrik yang tersedia 24 jam, pengembangan Bandar Udara Dewadaru dan pembangunan Pelabuhan Legon Bajak telah dilakukan. Souvenir yang perlu dibawa pulang, tentunya bukan pasir pantai ya, karena akan merusak lingkungan. Souvenir penganan ikan, gelang dan aksesoris yang terbuat dari kayu dewadaru, stigi atau kayu kalimasada bisa jadi pilihan.

Pada bulan-bulan tertentu peziarah ramai mengunjungi situs makam Sunan Nyamplungan. Peziarah banyak banyak memilih untuk menginap di penginapan di pulau Karimunjawa.

Pilihan lainnya yang banyak diminati wisatawan mancanegara adalah menginap di pulau-pulau resort. Pulau-pulau resort yang bisa dikunjungi di Karimunjawa diantaranya adalah pulau Menjangan dan pulau Menyawakan (Kura-kura resort).

Selain itu masih ada wisata pantai di pulau Karimunjawa , pantai ujung gelam, hingga bird watching di hutan mangrove. Untuk makan malam, di alon-alon Karimunjawa dekat pelabuhan ada berbagai kedai ikan bakar dadakan yang segar dan lezat. Sayangnya, kedai-kedai ini banyak menggunakan plastik sekali pakai seperti gelas plastik. Sampah plastik yang tidak dikelola baik bisa merusak ekosistem karimunjawa. Jadi, rekan-rekan wisata harus peduli lingkungan, hindari penggunaan plastik sekali pakai atau lebih keren bawa botol minum sendiri.

Perjalanan ke Karimunjawa dapat ditempuh dengan penerbangan dari Bandara Ahmad Yani Semarang dengan Nam Air, atau penerbangan perintis dengan Airfast dari Bandara Djuanda Surabaya. Ada juga resort yang menggunakan pesawat charter untuk tamu-tamunya terbang ke Karimunjawa. Opsi lain adalah pelayaran dengan KM Kartini, KM Express Bahari, atau KM Siginjai dari Jepara.

Taman Nasional Karimunjawa banyak dikaitkan dengan pariwisata maritim. Kegiatan wisata air begitu dominan, seperti bersantai di pantai dengan pasir putihnya, berenang, memancing, berlayar, menyelam dan snorkelling untuk melihat pemandangan indah bawah laut atau melakukan fotografi, bercengkerama dengan hewan laut di penangkaran serta berbagai rekreasi kemaritiman lain yang dapat dilakukan di gugusan kepulauan indah ini. Tapi, wisata maritim bukanlah satu-satunya yang dimiliki Karimunjawa. Ternyata wisata religi dengan situs bersejarah makam Sunan Nyamplung hingga wisata seni dan budaya Karimunjawa yang belum diekplorasi.

Karimunjawa adalah kepulauan dengan status administratif Kecamatan di Laut Jawa yang termasuk dalam Kabupaten Jepara, Jawa Tengah. Berdasarkan legenda yang beredar, Pulau Karimunjawa ditemukan oleh Sunan Muria. Legenda itu berkisah tentang Sunan Muria yang memerintahkan putranya, Amir Hasan ke sebuah pulau yang nampak “kremun-kremun” (kabur) dari puncak Gunung Muria untuk mengembangkan ilmu agamanya. Karena tampak “kremun-kremun” akhirnya kepulauan ini dikenal dengan nama “karimunjawa” sampai sekarang. Amir Hasan kelak dikenal sebagai Sunan Nyamplung karena menanam biji pohon Nyamplung (Calophyllum inophyllum L) di Karimunjawa. Pohon Nyamplung ini ternyata bermanfaat sebagai pemecah angin (wind breaker) untuk tanaman pertanian dan konservasi pantai, belakangan diketahui kalau biji nyamplung juga dapat dimanfaatkan sebagai biofuel. Sampai sekarang makam Sunan Nyamplung masih ramai dikunjungi, baik oleh peziarah maupun oleh pengunjung yang tertarik mempelajari sejarah Islam yang telah berkembang di kepulauan ini sejak abad ke-15.

Sejak tanggal 15 Maret 2001, Karimunjawa ditetapkan oleh pemerintah sebagai Taman Nasional dan dikelola oleh Balai Taman Nasional Karimunjawa Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan. Taman Nasional ini merupakan ekosistem asli dan rumah bagi hampir 400 spesies fauna laut dengan ragam ikan hias warna warni yang hidup di terumbu karang. Bahkan, fauna langka juga menghuni Taman Nasional Karimunjawa seperti Elang Laut Dada Putih, penyu sisik dan penyu hijau. Kawasan hutan mangrove menjadi lokasi tepat untuk penggemar bird watching dan fotografer.

Dengan luas daratan ±1.500 hektare dan perairan ±110.000 hektare, di lima pulau yang berpenghuni. Beragam suku yang menghuni Karimunjawa adalah suku Jawa, suku Bugis, suku Madura serta Suku Bajo, Buton dan Mandar yang hidup rukun secara turun temurun. Sebagian besar penduduk berprofesi sebagai nelayan dan pengolah ikan kering. Kekayaan sumber daya perikanan di Karimunjawa tidak perlu diragukan.

Sebagai kepulauan dengan mayoritas penduduk muslim, karakter penduduk yang sangat ramah dan santun merupakan modal utama pengembangan pariwisata. Keramahan penduduk lokal perlu disikapi dengan wisatawan yang juga menghormati budaya lokal dengan berbusana dan bersikap sopan di kawasan berpenduduk. Pilihan busana lebih beragam dapat dipakai di pulau resort atau kawasan-kawasan wisata.

Asisten Deputi Bidang Koordinasi Infrastruktur Kementerian Koordinator Bidang Kemaritiman Pelayaran, Perikanan dan Pariwisata Rahman Hidayat yang baru-baru ini melakukan kunjungan ke Karimunjawa melalui keterangan tertulis pada Tag Pariwisata, mengungkapkan bahwa dukungan infrastruktur pariwisata harus berwawasan lingkungan dan sesuai dengan kearifan lokal. Pengelolaan sampah terpadu perlu dibangun di Karimunjawa agar masalah sampah dapat segera diantisipasi, simultan dengan edukasi kebersihan dan bahaya sampah plastik. “Taman Nasional memang tidak diproyeksikan sebagai lokasi mass tourism , kelestarian lingkungan harus diutamakan,” tegas Rahman.***

 

Tag Facebook

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

x

Check Also

Promosikan Wisata Belitung, Festival Tanjung Kelayang 2018 Resmi Dibuka

Tag  Pariwisata, Belitung- Masyarakat Belitung mulai hari ini hingga 19 November mendatang siap menyambut kunjungan ...