Home » Pariwisata » Ini Alasan Mengapa Tak Perlu Kuatir Wisata Akhir Tahun Ini ke Bali

Ini Alasan Mengapa Tak Perlu Kuatir Wisata Akhir Tahun Ini ke Bali

Menteri Pariwisata Arief Yahya memimpin rapat membahas Paket Hot Deals dan usulan Recovery Bali karena dampak aktivitas Gunung Agung yang sempat meresahkan wisatawan. (TP/Ist)

Tag Pariwisata, Jakarta- Bali masih jadi idola tujuan wisata. Ramainya berita mengenai Gunung Agung menjadi tantangan tersendiri  bagi pariwisata Bali.

Nah Pemerintah dengan detail dan seksama terus memantau perkembangan aktivitas vulkanik Gunung Agung. Hasilnya, kepariwisataan di Bali dinyatakan aman dan boleh dikunjungi wisatawan. Status Bali normal.

Kecuali pada radius 10 km dari pusat erupsi Gunung Agung yang masih Awas atau level IV. Penegasan melalui surat Menkomar itu mengakhiri kesimpangsiuran soal status Bali. Hanya 2% di seputar gunung saja yang masih level IV. Selebihnya, Pulau Bali aman.

Hal tersebut disampaikan Sekretaris Kementerian Koordinator Bidang Kemaritiman Republik Indonesia, Agus Purwoto seperti disampaikan dalam keterangan pers.

Sesmenkomar Agus menyebutkan bahwa surat itu, berdasarkan rapat pembahasan mengenai status Gunung Agung pada 15 Desember lalu di Kantor Kementerian Koordinator Bidang Kemaritiman. Rapat itu lengkap dihadiri semua stakeholder, terkait Gunung Agung.

“Untuk daerah di Bali lainnya dinyatakan normal,” tulis Agus Purwoto.

Hal itu merujuk pada paparan vulkanologis dalam rapat koordinasi di Kemenkomar itu. Kemudian juga diperkuat dengan analisa dari BMKG.

“Sehingga disimpulkan bahwa Bandara Ngurah Rai akan aman,” ujarnya. Hal itu juga diperkuat dengan analisa dari Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG).

Kendati demikian, Pemerintah Daerah Provinsi Bali beserta seluruh aparat keamanan diimbau untuk mengambil langkah tindak dan cepat tanggap bila keadaan berubah.

Dalam rapat tersebut, selain Menko Bidang Kemaritiman, turut hadir Menteri ESDM Ignatius Jonan yang membawahi langsung badan vulkanologi, Kepala BMKG, Menteri Perhubungan, Polda Bali, Pangdam IX/Udayana dan sejumlah pejabat daerah Provinsi Bali.

“Untuk kepariwisataan di Bali dinyatakan aman kecuali pada radius awas Gunung Agung,” ujar Agus.

Sebenarnya hal ini sudah disampaikan Menkomar Luhut B Pandjaitan tanggal 15 Desember 2017 juga. Status gunung itu nornal sehingga Bali bisa beraktivitas seperti biasa. “Bali dinyatakan aman, kecuali di radius hanya 10 km yang level 4,” jelasnya.

Menteri Pariwisata Arief Yahya mengatakan pemerintah selalu memperhatikan secara detail perkembangan Gunung Agung. Hal ini guna memberi rasa aman dan nyaman bagi kehidupan pariwisata di Bali. Yang menjadi kehidupan utama masyarakat Bali.

“Di tengah keamanan ini, sudah saatnya industri dan seluruh stakeholder untuk dapat bersama-sama melakukan recovery Bali,” ujar Menpar Arief Yahya.

Bagi wisatawan mancanegara, sejatinya bukan pada status gunung yang membuat khawatir. Tetapi penutupan bandara yang membuat mereka repot mencari escape dari Pulau Dewata.

“Ya, kami sudah merapatkan dengan Pemda dan Pelaku usaha pariwisata di Bali selama dua hari berturut-turut, 18-19 Desember 2017. Hasilnya, kami sepakat akan mengantarkan wisman sampai ke bandara internasional terdekat. Bisa Lombok, Banyuwangi atau Surabaya,” kata Arief Yahya.

Karena itu, Menpar Arief mengajak industri yang bergerak di sektor 3A, Amenitas (Akomodasi), Atraksi dan Akses untuk bergotong royong membuat paket bersama. Paket Hot Deals namanya, menggabungkan 3A itu, dengan menggunakan excess capacity, dan dijual lebih murah.

Program ini secepatnya harus dijalankan, untuk recovery Bali, dan dipromosikan besar-besaran, hingga Maret 2018. Agar liburan Imlek 2018 bisa dihandle dengan optimal.

Menteri Pariwisata Arief Yahya sudah melontarkan hal itu dalam rapat Paket Hot Deals dan usulan Recovery Bali di kantor Badan Promosi Pariwisata Daerah. Rapat ini dihadiri Bali Tourism Hospitality dan perwakilan asosiasi pariwisata seperti PHRI, GIPI, ASITA, dan HPI.

Di dalam rapat, Menpar kembali menekankan urgensi Hot Deals untuk meningkatkan kunjungan wisman ke Bali. Penekanan Hot Deals dengan strategi More for Less (You Get More, You Pay Less) untuk bundling paket dengan harga promo secara gotong royong.

“The more you give, the more you get itu ilmu dasar marketing,” tegas Menpar Arief Yahya sambil memberikan contoh bisnis bidang telekomunikasi.

Dari hasil rapat, Menpar Arief Yahya mengeluarkan putusan antara lain, Rencana Mitigasi harus dimatangkan, pelaku wisata Bali bersepakat mendukung program Hot Deals dan komitmen program ini Rp 100 miliar untuk program Hot Deals dari Kemenpar.

“Fokus kita saat ini evaluasi pasca erupsi Gunung Agung yang terjadi pada akhir November sekaligus persiapan recovery untuk memulihkan Pariwisata Bali yang terdampak,” ungkap Menpar Arief Yahya.

Hasil rapat ini akan dijadikan masukan untuk Presiden Joko Widodo. Presiden akan melakukan rapat terbatas membahas mengenai Dampak Letupan Gunung Agung yang rencananya akan dihelat pada tanggal 22 Desember besok di Bali.***

 

 

Tag Facebook
Share

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

x

Check Also

Solo Great Sale Dibuka, Sebulan Penuh Wisatawan Bisa Belanja dengan Diskon Hingga 80%

SOLO — Kementerian Pariwisata menyambut baik ajang tahunan Solo Great Sale (SGS) tahun 2018 yang ...

Share